Kategori: Uncategorized

  •  Komitmen Pengawasan Lahan Bekas Karhutla Menjadi Kunci Pemulihan Ekosistem

    Oleh: Arif Laksono)*

    Penurunan jumlah titik panas dalam pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) patut dicatat sebagai perkembangan positif. Berdasarkan pemantauan SiPongi Kementerian Kehutanan hingga Sabtu, 31 Oktober 2026 pukul 21.00 WIB, hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi secara nasional turun menjadi 96 titik dari 160 titik pada hari sebelumnya. Penurunan tersebut menjadi salah satu indikator perkembangan pengendalian karhutla, yang selanjutnya perlu diikuti dengan pemantauan kondisi lapangan dan pemulihan kawasan terdampak.

    Dinamika di wilayah prioritas menunjukkan bahwa kewaspadaan belum dapat dikendurkan. Dari enam provinsi prioritas, terdeteksi 19 hotspot high confidence, dengan Kalimantan Tengah mencatat 15 titik, Sumatra Selatan 3 titik, dan Kalimantan Selatan 1 titik. Kalimantan Tengah mencatat 15 titik hotspot, meningkat dari 12 titik pada hari sebelumnya, sehingga pemantauan dan penanganan di wilayah tersebut terus menjadi perhatian.

    Perlu dipahami pula bahwa hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan dari satelit, sehingga tidak dapat disamakan dengan jumlah kejadian atau luas area terbakar. Karakter gambut memungkinkan bara bertahan di bawah permukaan meski api tidak terlihat, sehingga pembasahan, penyisiran bara, dan patroli harus terus berjalan.

    Pemerintah merespons dinamika tersebut dengan langkah yang konkret. Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni meninjau langsung kawasan bekas kebakaran di Kalimantan Tengah menggunakan drone dan pemeriksaan di lapangan. Dalam peninjauan itu, tim memasang papan peringatan larangan aktivitas pertambangan di dalam kawasan hutan, memeriksa kendaraan di sekitar lokasi, serta mengecek temuan kayu.

    Menurut Menhut, pemasangan plang di kawasan pemegang Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan yang telah dikenai sanksi merupakan bagian dari pengamanan kawasan yang membutuhkan pengawasan dan pemulihan. Ia menegaskan, kawasan hutan yang pernah terbakar tidak boleh menjadi ruang bagi aktivitas ilegal.

    Menhut menekankan pentingnya penguatan kapasitas sumber daya manusia dan pemanfaatan teknologi untuk mendukung pengawasan hutan yang lebih efektif dan terarah. Menurutnya, pengawasan harus dilakukan secara lebih cerdas dan taktis dengan mengidentifikasi area yang rawan pembalakan liar.

    Di sisi lain, ia menyampaikan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah memutuskan penambahan polisi hutan generasi baru hingga 70 ribu orang. Keputusan ini mencerminkan keseriusan negara dalam menjaga hutan, sekaligus menjawab kebutuhan pengawasan di lapangan.

    Pengawasan berjalan beriringan dengan penegakan hukum. Kapolri Suyudi Ario Seto mengungkapkan bahwa penanganan perkara karhutla mencakup pelaku perorangan dan korporasi. Untuk perorangan, 13 polda menangani 286 laporan polisi dengan luas lahan terbakar 5.856 hektare dan 243 tersangka. Untuk korporasi, 10 polda bersama Bareskrim Polri menangani 100 laporan polisi dengan luas lahan terbakar 29.534,99 hektare dan 13 tersangka korporasi per 20 Oktober 2026.

    Kementerian Kehutanan melengkapinya dengan sanksi administratif kepada 32 perusahaan serta penetapan PT MAP di Kalimantan Barat dan PT GAP di Kalimantan Tengah sebagai tersangka korporasi. Tentu, penetapan tersangka perlu dibedakan dari putusan pengadilan.

    Dari sisi tata kelola kawasan, Juru Bicara Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH) Barita Simanjuntak menegaskan bahwa hutan lindung dan kawasan konservasi yang terdampak karhutla tidak boleh dialihfungsikan dan harus dihutankan kembali. Menurutnya, konsekuensi hukum bergantung pada status kawasan.

    Pelaku usaha yang beraktivitas secara ilegal di hutan lindung atau kawasan konservasi berpotensi dijerat ketentuan pidana, sedangkan pada hutan produksi berizin, pidana menyasar kegiatan yang mengakibatkan kebakaran. Penegasan ini penting agar pemulihan dilakukan sesuai status dan peruntukan kawasan.

    Mengapa pengawasan pascakebakaran menjadi kunci? Lahan yang baru terbakar berada dalam kondisi terbuka, vegetasi hilang, dan struktur tanah terganggu. Pada fase ini, pengawasan kawasan perlu diperkuat untuk memastikan proses pemulihan ekosistem berjalan dan mencegah aktivitas yang tidak sesuai dengan ketentuan. Apabila hal itu terjadi, proses pemulihan alami seperti tumbuhnya kembali vegetasi dan pulihnya fungsi hidrologis gambut akan terhenti.

    Pengawasan berkelanjutan diperlukan untuk memastikan lahan bekas kebakaran tetap terlindungi, tidak mengalami alih fungsi yang melanggar ketentuan, dan dapat menjalani proses pemulihan ekosistem. Dengan kata lain, pengawasan memiliki dua fungsi sekaligus: mencegah api kembali muncul dan mencegah penguasaan kawasan secara melawan hukum. Karena itu, penanganan karhutla memang harus dijalankan dari hulu hingga hilir, mulai dari pemadaman, penelusuran penyebab, penegakan hukum, hingga pengamanan dan pemulihan kawasan.

    Pengawasan yang efektif memerlukan kolaborasi lintas pihak. Manggala Agni Kementerian Kehutanan bersama BNPB, TNI, Polri, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, Masyarakat Peduli Api, relawan, dan dunia usaha terus melakukan patroli, groundcheck, pemadaman, dan pendinginan sesuai kondisi di tiap wilayah.

    Masyarakat dan pelaku usaha perlu menghindari pembukaan lahan dengan cara membakar serta segera melaporkan asap, titik api, atau indikasi pelanggaran melalui Posko Karhutla Kementerian Kehutanan di nomor 021-5704618 atau WhatsApp +62 8131-00-35000, agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.

    Ke depan, penurunan hotspot nasional dari 160 menjadi 96 titik sebaiknya dimanfaatkan untuk mempercepat penuntasan operasi di lapangan. Ukuran keberhasilan pengendalian karhutla bukan sekadar berkurangnya jumlah titik panas, melainkan memastikan api dan bara benar-benar padam, kebakaran tidak kembali muncul, kawasan bekas kebakaran tetap terlindungi, masyarakat aman, dan setiap pelanggar diproses sesuai ketentuan hukum.

    )*Penulis Merupakan Pengamat Lingkungan dan Kebijakan Publik

  • Intensifikasi Pengawasan Karhutla Mencegah Kebakaran Berulang di Lahan Rawan

    Oleh : Nover Saputro

    Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi tantangan serius dalam upaya menjaga kelestarian lingkungan dan melindungi keselamatan masyarakat. Persoalan ini tidak cukup ditangani melalui pemadaman ketika api telah membesar, tetapi membutuhkan langkah pencegahan yang terencana, pengawasan berkelanjutan, serta penegakan hukum yang konsisten. Intensifikasi pengawasan, khususnya di kawasan yang memiliki tingkat kerawanan tinggi, menjadi salah satu langkah penting untuk mencegah kebakaran berulang sekaligus menekan dampak lingkungan, kesehatan, dan ekonomi yang ditimbulkannya.

    Selama ini, penanganan karhutla memperlihatkan bahwa upaya pengendalian membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Pemerintah tidak dapat hanya mengandalkan petugas pemadam kebakaran, melainkan harus memperkuat koordinasi antara kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, aparat keamanan, pelaku usaha, serta masyarakat. Kesamaan langkah dan kecepatan dalam merespons perkembangan situasi menjadi faktor penting agar potensi kebakaran dapat diketahui sejak dini sebelum meluas menjadi bencana.

    Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Kristomei Sianturi mengatakan langkah perbaikan metode penghitungan luas area terbakar dengan memanfaatkan citra satelit. Pemerintah juga menetapkan lima provinsi sebagai wilayah prioritas penanganan, yakni Kalimantan Tengah, Sumatra Selatan, Kalimantan Selatan, Jambi, dan Kalimantan Barat. Penetapan wilayah prioritas tersebut memperlihatkan pentingnya pengawasan yang disesuaikan dengan tingkat kerawanan dan perkembangan kondisi masing-masing daerah.

    Namun, pengawasan tidak boleh berhenti pada pemantauan melalui layar komputer atau laporan perkembangan titik panas. Pemeriksaan langsung terhadap kawasan rawan, terutama lahan gambut, kawasan hutan, dan wilayah konsesi perusahaan, perlu dilakukan secara berkala. Riwayat kebakaran, kondisi vegetasi, ketersediaan sumber air, serta aktivitas pembukaan lahan harus menjadi bagian dari pertimbangan dalam menentukan intensitas pengawasan. Pendekatan ini diperlukan agar pemerintah tidak hanya bereaksi terhadap kebakaran yang sudah terjadi, tetapi mampu mengidentifikasi faktor pemicunya sejak awal.

    Penguatan infrastruktur pencegahan juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari intensifikasi pengawasan. Pembangunan sekat kanal, penyediaan water intake atau titik pengambilan air, serta sumur bor merupakan langkah konkret untuk memastikan ketersediaan sumber air ketika terjadi kebakaran. Infrastruktur tersebut sangat penting, terutama di kawasan gambut yang memiliki karakteristik mudah terbakar ketika mengalami kekeringan. Kesiapan sarana pendukung akan membantu petugas melakukan penanganan lebih cepat sekaligus mengurangi risiko api meluas ke wilayah sekitarnya.

    Di samping itu, langkah modifikasi cuaca melalui penyemaian bahan tertentu untuk membantu memicu hujan dapat menjadi bagian dari strategi penanganan ketika kondisi atmosfer memungkinkan. BNPB melaporkan pelaksanaan penyemaian dry ice di sejumlah wilayah, termasuk Sumatra Selatan. Upaya tersebut diharapkan membantu menekan dampak kebakaran dan memperbaiki kondisi kualitas udara. Meski demikian, langkah tersebut perlu dipandang sebagai bagian dari penanganan terpadu, bukan pengganti pengawasan dan pencegahan langsung di lapangan.

    Aspek lain yang tidak kalah penting adalah penegakan hukum terhadap pihak-pihak yang terbukti melakukan pembakaran hutan dan lahan. Penindakan harus dilakukan secara tegas, profesional, dan berdasarkan bukti agar memberikan efek jera serta mencegah kejadian serupa terulang. Pengawasan terhadap aktivitas perusahaan juga perlu diperkuat, terutama untuk memastikan pengelolaan konsesi berjalan sesuai ketentuan lingkungan dan kewajiban pencegahan kebakaran.

    Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto melaporkan bahwa hingga 20 Oktober 2026, penanganan kasus karhutla terhadap perorangan mencakup 286 laporan polisi dengan luas area terbakar mencapai 5.856 hektare dan 243 orang telah ditetapkan sebagai tersangka. Sementara itu, penanganan terhadap korporasi mencakup 100 laporan polisi dengan luas area terbakar mencapai 29.534,99 hektare dan 13 korporasi telah ditetapkan sebagai tersangka. Data tersebut memperlihatkan bahwa persoalan karhutla tidak hanya berkaitan dengan aktivitas perorangan, tetapi juga membutuhkan pengawasan serius terhadap kegiatan usaha.

    Penegakan hukum terhadap korporasi harus berjalan seiring dengan evaluasi kepatuhan pengelolaan lingkungan. Setiap perusahaan yang memiliki konsesi di kawasan rawan kebakaran perlu memastikan kesiapan personel, peralatan pemadam, sumber air, dan sistem pemantauan di wilayah operasionalnya. Pemerintah juga perlu memastikan bahwa setiap indikasi pelanggaran ditindaklanjuti melalui proses pemeriksaan yang transparan dan akuntabel. Dengan demikian, tanggung jawab pencegahan karhutla tidak hanya dibebankan kepada negara dan masyarakat, tetapi juga menjadi kewajiban setiap pelaku usaha yang beraktivitas di kawasan hutan dan lahan.

    Partisipasi masyarakat turut menjadi elemen penting dalam memperkuat pengawasan. Warga yang tinggal di sekitar kawasan rawan kebakaran memiliki posisi strategis untuk mengenali perubahan kondisi lingkungan dan melaporkan indikasi pembakaran sejak dini. Intensifikasi pengawasan karhutla juga harus diarahkan pada upaya membangun sistem pencegahan yang konsisten dan berkelanjutan. Pemanfaatan teknologi, pemeriksaan lapangan, penguatan infrastruktur, penegakan hukum, serta keterlibatan masyarakat perlu berjalan sebagai satu kesatuan.

    Keberhasilan pengendalian karhutla tidak semata-mata diukur dari kemampuan memadamkan api, tetapi juga dari kemampuan mencegah kebakaran terjadi kembali di kawasan yang sama. Dengan pengawasan yang semakin terarah dan koordinasi lintas sektor yang solid, pemerintah memiliki peluang lebih besar untuk melindungi kawasan hutan, menjaga kualitas lingkungan, serta memastikan keselamatan dan kesejahteraan masyarakat.

    *Penulis adalah Pengamat Sosial

  • Pemerintah Jaga Ketersediaan Pangan Nasional di Tengah Gejolak Dunia

    JAKARTA – Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto terus memperkuat ketahanan pangan nasional melalui peningkatan produksi dalam negeri, pengamanan cadangan beras, dan perlindungan masyarakat. Di tengah ketidakpastian geopolitik serta ancaman perubahan iklim, ketersediaan beras Indonesia diperkirakan mencapai 25 juta ton. Capaian tersebut menjadi modal strategis dalam membangun kemandirian pangan dan menjaga stabilitas kebutuhan pokok masyarakat.

    Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyampaikan bahwa kekuatan pangan nasional ditopang oleh produktivitas petani, cadangan pemerintah, serta optimalisasi penyerapan hasil panen oleh Perum BULOG.

    “Indonesia memiliki potensi produksi dan cadangan pangan yang kuat. Ini merupakan hasil kerja keras petani serta upaya pemerintah memperkuat produksi dalam negeri agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi,” ujar Amran.

    Berdasarkan data per 26 Oktober 2026, cadangan beras pemerintah yang dikelola BULOG mencapai sekitar 4,5 juta ton. Selain itu, terdapat potensi 10 juta ton beras dari tanaman padi yang siap dipanen dan sekitar 10 juta ton persediaan di sektor hotel, restoran, dan katering. Dengan kebutuhan nasional sekitar 2,5 juta ton per bulan, penguatan produksi dan pengelolaan stok menjadi bagian penting dalam menjaga kesinambungan pasokan.

    Direktur Utama Perum BULOG Ahmad Rizal Ramdhani menyatakan bahwa pengadaan beras nasional hingga Oktober 2026 mencapai 4.115.014 ton atau 102,88 persen dari target pemerintah. Capaian ini melampaui realisasi sepanjang 2025 sebesar 3.191.969 ton. Jawa Timur turut memberikan kontribusi besar dengan penyerapan 979.817 ton hingga 11 Oktober 2026, setara 110,85 persen dari target provinsi.

    “Capaian pengadaan yang melampaui target menunjukkan kuatnya dukungan produksi dalam negeri. BULOG terus mengoptimalkan penyerapan hasil panen petani untuk memperkuat cadangan pemerintah dan menjaga ketersediaan beras bagi masyarakat,” kata Rizal.

    Di tengah risiko penurunan produksi pangan dunia akibat El Niño, pemerintah juga memperkuat perlindungan sosial. Presiden Prabowo mengarahkan penyaluran bantuan beras bagi masyarakat kelompok desil 1 hingga desil 4 selama Oktober–Desember 2026.

    “Cadangan beras pemerintah harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Penyaluran bantuan menjadi bagian dari komitmen pemerintah untuk membantu kelompok yang paling membutuhkan sekaligus menjaga akses terhadap pangan,” ujar Rizal.

    Pemerintah turut mengoptimalkan lahan pertanian, memperbaiki irigasi, memperluas pompanisasi, menyediakan benih berkualitas, serta meningkatkan perlindungan petani.

    Amran menegaskan, “Kemandirian pangan harus terus diperkuat melalui peningkatan produktivitas, pengelolaan cadangan yang baik, dan keberpihakan kepada petani. Dengan begitu, Indonesia semakin siap menghadapi dinamika pangan global.”

    Melalui sinergi pemerintah, BULOG, dan petani, Indonesia terus membangun fondasi ketahanan pangan yang tangguh. Peningkatan produksi, penguatan cadangan, dan penyaluran bantuan menjadi bagian dari upaya mewujudkan ketersediaan pangan berkelanjutan, melindungi daya beli masyarakat, dan memperkuat kemandirian pangan nasional.

  • Pemerintah Pastikan Pangan RI Relatif Aman di Tengah Krisis Global

    JAKARTA – Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto terus memperkuat ketahanan pangan nasional sebagai fondasi kemandirian ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Di tengah dinamika geopolitik global, Indonesia menunjukkan kesiapan melalui penguatan cadangan beras, peningkatan produksi pertanian, serta dukungan pembiayaan bagi pelaku usaha pangan. Ketersediaan beras nasional diperkirakan mencapai 25 juta ton, menjadi modal strategis dalam menjaga pasokan kebutuhan pokok.

    Menteri Pertanian Amran Sulaiman menyampaikan bahwa kekuatan pangan Indonesia ditopang cadangan pemerintah, potensi hasil panen, dan persediaan sektor hotel, restoran, dan katering (horeka). Berdasarkan data per 26 Oktober 2026, cadangan beras pemerintah yang dikelola Perum BULOG mencapai sekitar 4,5 juta ton, dengan potensi 10 juta ton dari tanaman siap panen serta sekitar 10 juta ton persediaan sektor horeka.

    “Syukurlah, di tengah ketidakpastian geopolitik dan dinamika pangan dunia, persediaan pangan Indonesia masih terjaga dengan baik. Ini menjadi modal penting untuk memastikan kebutuhan masyarakat terpenuhi,” ujar Amran.

    Menurutnya, penguatan produksi domestik merupakan strategi penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor. Pemerintah terus menjalankan optimalisasi lahan, pompanisasi, rehabilitasi irigasi, penyediaan benih berkualitas, serta peningkatan produktivitas petani guna menjaga kesinambungan pasokan.

    “Jangan sampai kebutuhan pangan bangsa kita bergantung kepada negara lain. Swasembada pangan harus menjadi kekuatan Indonesia untuk menghadapi perubahan kondisi global sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani,” tegas Amran.

    Penguatan ketahanan pangan juga didukung sektor perbankan. Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya menjelaskan bahwa pembiayaan diberikan kepada pelaku usaha pangan dari skala ultramikro hingga korporasi, mencakup kegiatan produksi, pengolahan, penyimpanan, dan distribusi.

    Hingga akhir Triwulan II 2026, kredit BRI tercatat mencapai Rp1.645 triliun, dengan 75,1 persen dialokasikan kepada UMKM. Sekitar 44 persen penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) pada periode tersebut menyasar sektor pertanian dan perikanan.

    “Pembiayaan UMKM menjadi bagian penting dalam memperkuat ekonomi masyarakat. Dukungan kepada sektor pertanian dan perikanan diharapkan meningkatkan kapasitas produksi serta memperluas kesempatan usaha,” kata Akhmad.

    Melalui kolaborasi pemerintah, perbankan, petani, dan pelaku usaha, Indonesia terus membangun sistem pangan yang tangguh. Penguatan produksi, cadangan, pembiayaan, dan distribusi menjadi langkah strategis untuk menjaga stabilitas pasokan serta mewujudkan kemandirian pangan nasional secara berkelanjutan.

  • Ketahanan Pangan Menjadi Kekuatan Indonesia Menghadapi Krisis Global

    Oleh: Ardiansyah Pratama*

    Ketegangan geopolitik dunia, ancaman gangguan rantai pasok, serta perubahan iklim mendorong berbagai negara meningkatkan kesiapan dalam menghadapi kemungkinan krisis pangan. Sedikitnya 33 negara telah mengimbau masyarakatnya menyiapkan persediaan makanan, air minum, obat-obatan, dan kebutuhan pokok sebagai langkah menghadapi keadaan darurat. Di tengah situasi tersebut, Indonesia menyatakan memiliki bekal yang relatif kuat melalui produksi dalam negeri, cadangan beras pemerintah, dan penguatan ekosistem pangan.

    Menteri Pertanian Amran Sulaiman menyampaikan bahwa kondisi pangan nasional masih terjaga ketika sejumlah negara menghadapi ketidakpastian pasokan. Menurutnya, ketersediaan produksi domestik dan cadangan menjadi modal penting yang harus dipelihara agar Indonesia tidak mudah terdampak gejolak internasional. Kekhawatiran terhadap krisis bukan tanpa alasan. Inggris, Jepang, dan sejumlah negara lain telah menyarankan warganya menyimpan kebutuhan dasar untuk sedikitnya 72 jam atau tiga hari, bahkan sampai satu pekan apabila memungkinkan.

    Amran menjelaskan, Indonesia mempunyai sejumlah sumber ketersediaan beras, mulai dari cadangan beras pemerintah yang dikelola Perum Bulog, tanaman padi yang siap dipanen, hingga persediaan pada sektor hotel, restoran, dan katering atau horeka. Berdasarkan data per 26 Oktober 2026, stok beras pemerintah tercatat sekitar 4,5 juta ton. Selain itu, potensi produksi dari standing crop diperkirakan mencapai 10 juta ton, sementara stok di sektor horeka juga disebut berada pada kisaran 10 juta ton.

    Jika seluruh komponen tersebut dihitung, ketersediaan beras diperkirakan mencapai sekitar 25 juta ton. Dengan kebutuhan beras sekitar 2,5 juta ton per bulan, pemerintah menilai posisi persediaan tersebut memberi ruang untuk menjaga pasokan ketika terjadi tekanan dari luar negeri. Kondisi ini menjadi modal penting bagi Indonesia dalam mempertahankan stabilitas pangan sekaligus mengantisipasi kemungkinan terganggunya distribusi kebutuhan pokok akibat konflik internasional.

    Amran menyebut kekuatan itu berkaitan erat dengan keberhasilan Indonesia mempertahankan swasembada beras tanpa impor. Menurut dia, kemandirian pangan bukan sekadar capaian produksi, melainkan perlindungan strategis ketika perdagangan internasional menghadapi gangguan. Ia mengingatkan bahwa ketergantungan impor dapat menjadi persoalan serius apabila negara produsen menahan ekspor atau konflik menghambat jalur perdagangan. Karena itu, swasembada perlu dijaga melalui peningkatan hasil panen, penguatan cadangan, dan perlindungan terhadap petani.

    Dalam setahun terakhir, pemerintah melalui Kementerian Pertanian terus menjalankan langkah penguatan produksi, antara lain optimalisasi lahan, pompanisasi, perbaikan jaringan irigasi, penyediaan benih unggul, serta peningkatan produktivitas. Berbagai program tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam menjaga produksi beras, memperkuat ketersediaan domestik, dan mempertahankan kondisi tanpa impor beras sebagaimana disampaikan Amran. Langkah tersebut menunjukkan bahwa ketahanan pangan harus dibangun melalui kebijakan yang saling mendukung, bukan hanya mengandalkan hasil panen pada satu musim.

    Perbaikan irigasi membantu menjaga ketersediaan air, pompanisasi membuka peluang pengolahan lahan yang sebelumnya terkendala, sedangkan benih unggul diharapkan meningkatkan hasil dan mutu produksi. Di sisi lain, petani membutuhkan kepastian akses sarana produksi, pendampingan, dan pasar agar peningkatan produksi dapat berkelanjutan. Amran menegaskan bahwa rasa syukur atas kondisi pangan yang relatif aman harus berjalan bersama kewaspadaan. Produksi perlu terus ditingkatkan, cadangan diperkuat, dan petani dilindungi karena keberhasilan pangan nasional bertumpu pada kerja petani serta kehadiran negara.

    Penguatan ketahanan pangan juga membutuhkan dukungan pembiayaan dan keterhubungan usaha di sepanjang rantai pasok. Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya menjelaskan bahwa BRI memiliki peran untuk membantu pengembangan ekosistem pangan melalui pembiayaan bagi pelaku usaha dari skala ultramikro hingga korporasi. Dalam ekosistem BRI, pembiayaan dapat diberikan melalui segmen ultramikro yang melibatkan PNM dan Pegadaian, kemudian diteruskan ke usaha mikro, kecil, hingga korporasi.

    Menurut Akhmad, pembiayaan sektor pangan tidak hanya dibutuhkan pada tahap produksi. Dukungan modal juga diperlukan untuk penyediaan benih dan pakan, peningkatan kapasitas, pengolahan hasil, pengemasan, modal kerja, distribusi, serta persediaan pedagang. Akhmad mencontohkan dukungan terhadap ekosistem peternakan sapi perah di Malang. Dalam rantai usaha tersebut, BRI dapat membiayai peternak sebagai produsen, koperasi yang mengelola fasilitas penyimpanan dingin atau cold storage, serta industri maupun offtaker yang menyerap hasil produksi.

    Hingga akhir Triwulan II 2026, portofolio kredit BRI mencapai Rp1.645 triliun, dengan sekitar 75,1 persen disalurkan kepada segmen UMKM. Pada periode yang sama, sekitar 44 persen penyaluran Kredit Usaha Rakyat atau KUR diarahkan ke sektor pertanian dan perikanan. Akhmad menegaskan porsi pembiayaan UMKM harus dipertahankan sekurang-kurangnya 75 persen. BRI juga mengandalkan sekitar 30 ribu tenaga pemasar lapangan yang memiliki pemahaman terhadap berbagai sektor, termasuk pertanian, peternakan, perikanan, dan perdagangan.

    Sinergi pemerintah, lembaga keuangan, petani, koperasi, pengolah, distributor, dan pedagang menjadi faktor penting untuk memperkuat ketahanan pangan. Pada akhirnya, cadangan yang besar dan produksi yang memadai perlu diikuti tata kelola yang baik, akses pembiayaan yang inklusif, serta distribusi yang lancar. Indonesia perlu menjaga momentum swasembada dengan terus meningkatkan produktivitas, memperkuat infrastruktur pertanian, melindungi kesejahteraan petani, dan memastikan pangan tersedia dengan harga yang wajar. Ketahanan pangan bukan hanya urusan memenuhi kebutuhan hari ini, melainkan fondasi kemandirian bangsa dalam menghadapi ketidakpastian global. Oleh sebab itu, seluruh elemen masyarakat perlu mendukung produksi dalam negeri dan menjaga keberlanjutan rantai pasok agar Indonesia semakin tangguh menghadapi krisis.

    *Penulis merupakan Pengamat Kebijakan Pertanian

  • Saat Dunia Khawatir Krisis Pangan, Indonesia Menjaga Kemandirian

    Oleh: Rizky Mahendra*

    Indonesia menunjukkan ketahanan pangan yang kuat dengan perkiraan ketersediaan beras mencapai 25 juta ton. Didukung produktivitas petani dan kebijakan strategis pemerintah, capaian ini memperkuat kemandirian pangan nasional, menjaga stabilitas pasokan kebutuhan pokok, serta meningkatkan kesiapan Indonesia menghadapi dinamika global secara berkelanjutan demi kesejahteraan masyarakat.

    Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyampaikan bahwa kondisi pangan nasional masih terkendali di tengah sedikitnya 33 negara yang mulai mengimbau masyarakatnya menyiapkan persediaan kebutuhan dasar untuk menghadapi kemungkinan situasi darurat. Sejumlah negara bahkan meminta rumah tangga menyediakan makanan, air minum, obat-obatan, dan perlengkapan penting untuk kebutuhan minimal 72 jam.

    Inggris dan Jepang termasuk negara yang memperkuat kesiapsiagaan tersebut dengan menganjurkan masyarakat menyimpan kebutuhan pokok untuk tiga hari hingga satu minggu. Situasi ini memperlihatkan bahwa ancaman gangguan pasokan bukan lagi persoalan yang dapat dipandang sebelah mata. Konflik antarnegara, bencana alam, cuaca ekstrem, serangan siber, serta hambatan distribusi internasional dapat memengaruhi ketersediaan pangan sewaktu-waktu.

    Menanggapi kondisi tersebut, Amran menilai Indonesia memiliki keunggulan karena mampu mengandalkan hasil produksi pertanian domestik dan cadangan pemerintah. Menurutnya, ketika banyak negara mulai mempersiapkan kebutuhan darurat, Indonesia masih mempunyai kekuatan dari produksi pangan sendiri serta persediaan beras yang memadai. Kondisi tersebut merupakan hasil kerja bersama antara petani, pemerintah, dan berbagai kebijakan yang selama ini diarahkan untuk meningkatkan kemampuan produksi nasional.

    Amran juga mengingatkan bahwa pencapaian tersebut harus dipertahankan karena ketahanan pangan merupakan bagian penting dari kedaulatan negara. Berdasarkan data hingga 26 Oktober 2026, Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog mencapai sekitar 4,5 juta ton. Selain itu, terdapat potensi sekitar 10 juta ton beras dari tanaman padi yang siap dipanen atau standing crop serta sekitar 10 juta ton persediaan di sektor hotel, restoran, dan katering.

    Apabila seluruh potensi tersebut diperhitungkan, ketersediaan beras nasional diperkirakan mencapai 25 juta ton. Jumlah itu jauh lebih besar dibandingkan kebutuhan konsumsi nasional yang berada di kisaran 2,5 juta ton setiap bulan. Kondisi ini memberikan ruang bagi pemerintah untuk menjaga pasokan sekaligus mengantisipasi kemungkinan gangguan perdagangan pangan internasional.

    Amran menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh terus bergantung kepada negara lain untuk memenuhi kebutuhan pangan. Apabila konflik terjadi dan jalur perdagangan terganggu, negara produsen berpotensi membatasi ekspornya sehingga negara yang bergantung pada impor akan menghadapi risiko besar. Oleh karena itu, swasembada menjadi kekuatan sekaligus perlindungan bagi bangsa dalam menghadapi gejolak global.

    Keberhasilan mempertahankan swasembada beras tanpa impor menjadi salah satu pencapaian penting pemerintah selama setahun terakhir. Upaya tersebut diperkuat melalui optimalisasi lahan pertanian, pompanisasi, perbaikan jaringan irigasi, penyediaan benih unggul, serta peningkatan produktivitas petani. Pemerintah juga melakukan antisipasi terhadap perubahan iklim dan ancaman kekeringan agar kegiatan pertanian tetap berlangsung. Berbagai langkah tersebut memperlihatkan bahwa keberhasilan menjaga pangan tidak hanya ditentukan oleh besarnya cadangan, tetapi juga kemampuan mempertahankan produksi secara berkelanjutan.

    Penguatan sektor pertanian juga tercermin dari pencapaian Perum Bulog dalam menyerap hasil panen petani. Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengungkapkan bahwa hingga Oktober 2026, realisasi pengadaan beras nasional mencapai 4.115.014 ton setara beras atau 102,88 persen dari target pemerintah sebesar 4 juta ton. Angka tersebut melampaui pencapaian tahun 2025 yang tercatat sebanyak 3.191.969 ton sekaligus melewati rekor sebelumnya pada 2012 sebesar 3,65 juta ton.

    Jawa Timur menjadi salah satu penyumbang terbesar dengan realisasi pengadaan mencapai 979.817 ton hingga 11 Oktober 2026. Jumlah tersebut setara 110,85 persen dari target wilayah sebesar 883.912 ton dan menyumbang sekitar 23,7 persen terhadap pengadaan nasional. Pencapaian ini menunjukkan bahwa kerja sama antara pemerintah, petani, dan berbagai pihak mampu memperkuat cadangan pangan negara.

    Indonesia masih memiliki persediaan yang dapat dimanfaatkan untuk menjaga stabilitas harga dan membantu masyarakat. Presiden Prabowo Subianto juga menginstruksikan Bulog agar mendistribusikan persediaan beras yang tersimpan di gudang kepada masyarakat berpendapatan rendah. Rizal menyebut stok yang tersedia mencapai sekitar 5 juta ton dan bantuan direncanakan menyasar kelompok desil 1 hingga desil 4 untuk periode Oktober, November, dan Desember 2026.

    Menurut Rizal, cadangan yang memadai memungkinkan pemerintah melakukan intervensi pasar sekaligus memastikan bantuan pangan tersalurkan. Pengadaan beras tersebut didukung kolaborasi Bulog dengan petani, pemerintah daerah, kementerian terkait, TNI, Polri, serta mitra penggilingan. Ke depan, tantangan pemerintah bukan hanya mempertahankan jumlah persediaan, melainkan memastikan distribusi berjalan merata, harga tetap terjangkau, dan kesejahteraan petani semakin diperhatikan.

    Dengan demikian, ketahanan pangan tidak boleh berhenti sebagai pencapaian angka produksi maupun besarnya stok di gudang. Pemerintah perlu menjaga kesinambungan kebijakan, memperkuat infrastruktur pertanian, dan membuka ruang bagi petani untuk meningkatkan produktivitas. Masyarakat juga perlu mendukung pemanfaatan pangan lokal secara bijak. Di tengah dunia yang semakin dihantui ketidakpastian, kemandirian pangan merupakan tanggung jawab bersama. Indonesia harus terus menjaga hasil yang telah dicapai agar tidak hanya mampu bertahan menghadapi krisis global, tetapi juga menjadi negara yang berdaulat dan mandiri dalam memenuhi kebutuhan pangan rakyatnya.

    *Penulis merupakan Analis Ketahanan Pangan